Showing posts with label Tugas Kuliah. Show all posts
Showing posts with label Tugas Kuliah. Show all posts

Sunday, June 29, 2014

Analisa Website Budaya Indonesia

     Hello Blogger! Well, kali ini saya akan menganalisa website (again), tapi kali ini saya akan menganalisa website yang dibuat oleh bangsa saya sendiri, yang bertema "Budaya Indonesia". Pada kesempatan ini saya akan menganalisa website budaya indonesia pada bidang kesenian, anda bisa lihat website-nya di www.indonesiaseni.com.

     Saat membuka website www.indonesiaseni.com kita akan disuguhkan oleh desain home website ini yang sangat menarik. Tampilan awal ini di-desain dengan menarik sehingga pembaca baru dapat mengakses web ini dengan mudah. pada halaman awal disediakan menu-menu seni yang ingin ditampilkan, seperti seni rupa, sastra, musik, dan lain-lain. pada halaman awal juga ditampilkan Hot News yang berisi tentang berita-berita terbaru tentang seni dan budaya Indonesia. Tampilan halaman awal dari website indonesiaseni.com adalah seperti pada gambar dibawah ini :




     Tiap menu yang disediakan oleh web ini memiliki fiturnya masing-masing. jika kita klik pada menu RUPA maka akan muncul menu pulldown yang berisi menu-menu yang berhubungan dengan seni rupa. Desain dari tiap menu berbeda-beda, hal ini sangat menarik agar pembaca tidak bosan saat membuka web ini. Dibawah ini adalah tampilan dari masing-masing menu yang tersedia :

Friday, April 18, 2014

Analisa Website E-Learning


* flashback * e-Learning merupakan metode belajar jarak jauh yang memanfaatkan teknologi komputer dan jaringan internet. Saat ini pendidikan barbasis e-Learning telah menjadi trend, baik di kalangan anak-anak, maupun remaja dan dewasa.

Kali ini, saya akan membahas salah satu contoh situs web e-Learning yaitu ilmugrafis.com. Website ini ditujukan untuk mempelajari desain grafis. ilmugrafis.com menyediakan teknik-teknik dan tutorial untuk berbagai aplikasi desain grafis. Aplikasi Desain Grafis yang terdapat di website ini diantaranya sebagai berikut :
  1. Adobe Photoshop
  2. Coreldraw
  3. Adobe Flash
  4. Adobe Illustrator
  5. Dreamweaver
  6. Blender
  7. 3DMax
  8. dan masih banyak lagi aplikasi-aplkasi desain grafis lainnya.



Fitur-fitur ilmugrafis.com :

Tutorial yang rinci dan jelas, beberapa juga dilengkapi dengan video tutorial
News, pada fitur ini diperlihatkan daftar berita-berita terbaru mengenai desain grafis dan sebagainya

Articles

Download

Gallery




Berikut ini merupakan kelebihan dan kekurangan yang dimiliki website ini dalam berbagai aspek :

1. Usability
Ø  Situs ini meletakkan nama dan logo pada setiap halaman dan jika diklik akan menuju pada Navigasi Home, yang terletak di pojok kiri atas
Ø  Menyediakan search supaya memudahkan dalam pencarian artikel tutorial
.
Ø  Menggunakan screenshoot yang rinci sesuai dengan yang dijalankan pada step-stepnya.
Ø  Navigasi pada lokasi yang konsisten pada setiap halaman web, dan situs ini memiliki navigasi di atas.
Ø  Scrolling ke bawah terlalu banyak sehingga membuat pengunjung sulit untuk memahami isi di halaman Home.

2.    Desain visual
Ø  Struktur dalam setiap halaman sama sehingga pengunjung tidak dibuat bingung dengan menu yang berpindah-pindah.
Ø  Pemilihan warna bagus, penempatan logo website dan ukuran yang digunakan konsisten pada setiap halaman, sehingga pengunjung tidak merasa pindah ke website yang lainnya.

3.    Konten
Ø  Konten pada situs ini selalu diupdate karena mengimbangi perkembangan teknologi.
Ø  Judul konten berhubungan dengan isi konten tersebut.

4.    Aksesbilitas
Ø  Semua orang dapat mengunjungi website ini, atau bisa dibilang SEO (Search Engine Optimation)

5.    Fungsionalitas
Ø  Pengaksesan informasi cepat dan baik. Waktu download halaman cepat

Sunday, March 9, 2014

Journal About E-Learning

Hello blogger! Long time no blogging haha.
Well, baru dapet tugas softskill lagi nih, kali ini tentang e-learning. E-learning itu Apa? E-Learning itu berguna ga sih? Just check this out right now! :)


---------------------------------------------------------------------------



BLENDED LEARNING :
KOMBINASI E-LEARNING DALAM PENDIDIKAN JARAK JAUH

Abstrak
Pendidikan jarak jauh di Indonesia telah diatur oleh pemerintah dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang SISDIKNAS. Hal terpenting dalam pendidikan jarak jauh adalah prinsip untuk tetap up-to-date, yang pada dasarnya baik guru maupun murid memiliki kecenderungan menggunakan metode pendidikan modern seperti Information Technology and Communication (ICT) atau teknologi informasi dan komunikasi sebagai sumber pembelajaran yang selalu update. Saat ini pendidikan barbasis e-Learning telah menjadi trend dan bahkan telah menjadi nilai jual tersendiri bagi institusi-instusi penyelenggara pendidikan terutama pendidikan jarak jauh, walaupun sistem pendidikan e-learning masih menjadi hal yang dipertimbangkan. Salah satu faktor penyebab utamanya adalah masalah prasarana ketersediaan jaringan intenet serta kualitas bandwith yang rendah dan membutuhkan harga yang relatif tergolong mahal.

Tuesday, January 14, 2014

Konflik yang terjadi di masyarakat

Masyarakat Indonesia sejak dulu telah lama berjuang melawan kaum penjajah, dan senantiasa berhadapan dengan konflik. Perang terjadi beradad-abad lalu dan telah menyisakan pengaruh dan pengalaman dalam kehidupan sehari-hari, berupa pengalaman dalam menghadapi konflik, bahkan kadang-kadang sulit dibayangkan tiada hari tanpa konflik dan stress selama dalam perjuangan. Setelah proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 sejarah masih membuktikan sampai era reformasi dewasa ini, bangsa Indonesia dihadapkan dengan banyak pertentangan kelompok maupun politik, serta perseteruan kepentingan yang mengakibatkan konflik. Sementara itu masih sangat dirasakan bahwa sistem penegakan hukum kita masih lemah, misalnya dengan terjadinya salah persepsi antara dua kelompok masyarakat yang bertikai akan menambah daftar konflik menjadi meningkat. Konflik pribadi, konflik kepentingan antar individu ataupun konflik antar kelompok.
Pertentangan maupun konflik tersebut dapat dijumpai di seluruh segi kehidupan sehingga muncul pilihan-pilihan yang saling bertentangan dan tidak selaras mengakibatkan rusaknya tatanan keadaan maupun kehidupan bermasyarakat. Kondisi ketentraman dan ketertiban (tramtib) komunitas (pemukiman) maupun kelompok-kelompok ataupun lapisan masyarakat diberbagai daerah di Indonesia dalam beberapa tahun terusik oleh berbagai jenis gangguan dan konflik. Oleh karena itu mengenali pekerjaan sosial secara serius sangat penting untuk dicermati dalam upaya mengatasinya, bila kita gagal dalam mengatasi konflik maupun mengendalikannya akan mengakibatkan situasi dekstruktif yang lebih dahsyat, konflik merupakan masalah pelik untuk segera dicarikan pemecahaannya. 
Lalu bagaimana pekerjaan sosial mengatasi konflik? Dalam mencari segi penyelesaiannya, kemanfaatan dan kemaslahatannya, dari berbagai upaya-upaya yang dilakukan seperti antara lain :
1.     Menciptakan kereativitas masyarakat dalam menyikapi suatu konflik 
2.    Melakukan perubahan sosial yang kondusif pada pasca konflik. 
3.    Membangun komitmen kebersamaan dalam kelompok yang pernah konflik. 
4.    Mencegah berulang lagi konflik yang dapat merugikan banyak pihak. 
5.    Meningkatan fungsi sosial kekeluargaan atas dasar kebersamaan sebagai nilai
kearifan lokal yang dibangun dan diberdayakan dalam upaya dini menangani konflik.
Namun dari pada itu masih belum dirasakan dapat menyelesaikan konflik secara baik, oleh karena itu perlu untuk diketahui secara mendasar sebagai pokok bahasan dalam upaya mengatasi konflik, berupa faktor penyebab dan sumber konflik, jenis-jenis konflik, tahap-tahap konflik termasuk gejala dan ciri-cirinya serta penanganan, pengelolaan dan pengendalian konflik walaupun hal ini sangat sulit, tetapi dalam pekerjaan sosial perlu diketahui untuk dicari penyelesaiannya.


FAKTOR PENYEBAB DAN SUMBER KONFLIK
Konflik pada hakikatnya adalah segala sesuatu interaksi pertentangan antara dua pihak dan lebih didalam suatu kelompok masyarakat atau pun organisasi masyarakat, konflik dapat terjadi karena ketidak sesuaian antara dua atau lebih anggota-anggota dalam kelompok tersebut yang timbul karena adanya kenyataan bahwa mereka harus membagi atau berebut sumber-sumber daya yang terbatas serta merebutkan sumber kehidupan maupun lapangan kerja, dimana masing-masing mempunyai perbedaan, status, tujuan, nilai atau persepsi masing-masing.

Faktor penyebab dan sumber konflik antara lain dibagi dalam tiga hal berupa
:
1.     Kepentingan (Interest), Sesuatu kepentingan yang memotivasi orang untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Motivasi ini tidak hanya dari bagian keinginan pribadi seseorang, tetapi juga dari peran dan statusnya karena adanya kepentingan. 
2.    Emosi (Emotion), Emosi sering diwujudkan melalui perasaan yang menyertai sebagian besar interaksi manusia, antara lain : marah, benci, takut, cemas, bingung, penolakkan dan sebagainya. 
3.    Nilai (Value), Nilai ini merupakan komponen konflik yang paling susah dipecahkan karena nilai merupakan sesuatu hal yang tidak bisa diraba dan dinyatakan secara nyata. Nilai berada pada kedalaman akar pemikiran dan perasaan tentang benar dan salah, baik dan buruk, yang pada umumnya mengarah pada sikap dan perilaku manusia.

SUMBER- SUMBER KONFLIK
Berbagai sumber-sumber konflik dapat saja terjadi mencuat kepermukaan namun bila kita telusuri dapat kita rinci dalam berbagai unsur sbb: 
1.     Bio Sosial, Bio sosial bisa dikatakan perasaan frustrasi yang sering menghasilkan agresi sehingga mengarah pada terjadinya konflik. Frustrasi juga dihasilkan dari kecenderungan ekspektasi pencapaian yang lebih cepat dari apa yang seharusnya diharapkan.
2.    Kepribadian dan Interaksi Termasuk dalam hal ini adalah kepribadian yang abrasif atau suka menghasut, adanya gangguan psikologi, kejengkelan karena ketidaksederajatan hubungan dan perbedaan gaya interaksi.
3.    Struktural Banyak konflik yang melekat pada struktur organisasi dan masyarakat, karena adanya kekuasaan, status, kelas-kelas masyarakat yang semuanya berpotensi menjadi konflik apabila dikaitkan dengan hak asasi manusia, pengarusutamaan jender, dan sebagainya. 
4.    Budaya dan Ideologi Intensitas konflik dari sumber ini sering dihasilkan dari perbedaaan politik, sosial, agama dan budaya, termasuk masalah yang timbul diantara masyarakat karena perbedaan system nilai. 
5.    Konfergensi Didalam situasi tertentu sumber-sumber konflik tergabung menjadi satu sehingga menimbulkan kompleksitas konflik itu sendiri.


BERBAGAI JENIS KONFLIK
1.     Konflik Pribadi ( Intra personal ) Konflik intrapersonal melibatkan ketidaksesuaian emosi bagi individu ketika kepetingan, tujuan atau nilai-nilai yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang diharapkan tidak tercapai atau jauh dari menyenangkan.
Konflik ini merintangi kehidupan sehari-hari dan dapat mengganggu kegiatan orang lain. Ketika konflik ini dirasakan atau dialami baik secara fisik, mental atau emosional maka dapat menimbulkan sakit kepala, pusing bahkan stress. Bila akibat konflik ini sampai pada tingkat stress yang mematikan maka akan berada dalam konflik intrapersonal tahap berikutnya yang memiliki sifat destruktif misalnya menjurus kearah tindakan bunuh diri. Konflik intrapersonal merupakan konflik yang terjadi pada perilaku seseorang dimana pikiran dan sikapnya tidak kontrol dan sering menimbulkan emosi yang sangat tinggi.
2.    Konflik antara Pribadi ( InterPersonal) Konflik inter pribadi Konflik inter pribadi adalah konflik yang terjadi antara perilaku seseorang dengan mengaitkan kepentingan orang lain yang pikiran dan perilakunya tidak terkontrol, sehingga dapat menimbulkan kegelisahan dan rintangan kehidupan banyak orang. Konflik inter pribadi ini lebih jamak diassosiasikan dengan melibatkan sekelompok orang. Konflik ini tidak dapat diatasi secara external tanpa orang tersebut memiliki kendali secara internal.
b. Konflik antar pribadi Konflik antar pribadi merupakan konflik yang terjadi diantara dua orang atau lebih yang saling bertentangan karena masing-masing membutuhkan kebutuhan dasar psikologis yaitu : 
a.    Kebutuhan untuk diperlakuakan sebagai seorang pribadi untuk dihargai. 
b.    Kebutuhan untuk memiliki sejumlah kontrol. 
c.    Kebutuhan akan harga diri. 
d.    Kebutuhan untuk menentukan nasibnya sendiri.
e.    Kebutuhan menjadi orang yang konsisten.
3.    Konflik antara Kelompok 
a.    Konflik inter Kelompok ( Inter Groups ) Konflik ini merupakan pertentangan berbagai individu dalam suatu kelompok, karena masing-masing individu biasanya memiliki kemauan, kepentingan dan ingin memenuhi kebutuhan dasar psikologisnya dalam waktu yang bersamaan. Bahkan sering dijumpai bahwa di dalam kelompoknya sendiri para anggotanya tidak bersesuaian. 
b.    Konflik antar kelompok Antara kelompok satu dengan kelompok lainnya terjadi gesekan yang mengarah pada situasi perpecahan atau konflik antar warga anak bangsa, misalnya antar kelompok suku, ras, agama, dan golongan kelompok masyarakat tertentu. 


TAHAPAN, GEJALA DAN CIRI KONFLIK
1.     TAHAPAN KONFLIK
a.    Kondisi yang mendahului (Antecendent Condition) Pada tahap ini terdapat unsur penyebab antara lain karena kecurigaan , pertentangan pribadi, ras, kelas sosial, politik, sumber daya, keyakinan yang kesemuanya dari faktor-faktor ini tercermin dalam perilaku kehidupan sosial kemasyarakatan. 
b.    Kemungkinan konflik yang dilihat (Perceived Potential Conflict) Pada tahap ini satu atau kedua belah pihak mulai tampak perubahan kepribadian pada diri masing-masing orang, retaknya kesatuan kelompok dan solidaritas atau kesetiakawanan sosial mulai hilang. 
c.    Konflik yang dirasa (Felt Conflict) Pada tahap ini benturan kepentingan dan kebutuhan sering terjadi. Satu pihak atau kedua belah pihak yang terlibat melihat keadaan yang tidak memuaskan, meghambat, menakutkan, bahkan mulai mengancam. 
d.    Perilaku yang tampak (Manifest Behavior) Pada tahap ini orang-orang mulai menanggapi dan mengambil tindakan, sejak dari saling mendiamkan, kemudian pertengkaran secara lisan, berdebat, bersaing, agresif, saling menyerang akhirnya bermusuhan sampai dengan balas dendam yang berkepanjangan. Bentuk perbuatan yang nyata baik berupa lisan atau kata-kata maupun tindakan bergabung jadi satu kemasan. 
e.    Konflik yang dikelola (Suppressed or Managed Conflict) Pada tahap ini konflik yang sudah terjadi dapat ditekan. Upaya-upaya maksimal untuk meniadakan konflik dilakuakan malalui kesepakatan bersama (negosiasi). Namun demikian meskipun secara lahiriah konflik itu tampaknya seperti sudah berakhir atau dapat diselesaikan namun masalah intinya belum ditanggani, dimana pihak-pihak yang berkonflik hanya sekedar berdamping walaupun dalam hatinya berada dalam keadaan masih panas atau tegang. 
f.    Penyelesaian sesudah konflik (Management Aftermath) Pada tahap ini apabila konflik tidak dikelola dan diselesaikan, kedua belah pihak yang terlibat akan menanggung akibatnya baik bagi dirinya sendiri, maupun dalam lingkungan sosial khususnya hubungan sosial serta hubungan dengan beberapa orang yang diperlukan. Bila konflik dikelola dan berhasil, maka pihak-pihak yang terlibat perlu menindaklanjuti hasil pengelolaan itu secara konsekuen dan konsisten dengan melandasi apa yang telah menjadi kesepakatan bersama.

2.    GEJALA KONFLIK
Timbulnya gejala konflik berupa :
a.    Kombinasi jelas dan agresif Konflik tidak selalu digambarkan dalam bentuk nyata namun pada tahap ini terdapat tanda yang jelas dari konflik yang ditunjukan secara agresif. Contoh: teriakan-teriakan, celaan, ejekan, kekerasan dan sebagainya.
b.    Kombinasi dari agresif dan tersembunyi Pada tahap ini terdapat tanda-tanda yang tersembunyi dari konflik yang ditunjukan secara agresif. Contoh : komentar-komentar yang merendahkan, pelecehan, penghinaan, selalu mengkritik dan mencari-cari kesalahan orang, kebencian untuk mencoreng orang lain, dan sebagainya.
c.    Tanda tersembunyi dari konflik yang ditunjukkan secara pasif Pada tahap ini terdapat tanda-tanda tersembunyi dari konflik yang ditunjukkan secara pasif. Contoh : tidak mau berkerja sama, tidak mau ikut pertemuan, cemas tidak mau menyelesaikan masalah. 
d.    Tanda yang jelas nampak pasif Pada tahap ini terdapat tanda yang jelas nampak yang ditunjukan secara jelas dalam kejadian konflik secara pasif. Contoh : mengirim surat tetapi tidak ada niat melaksanakan kegiatan yang berarti.

3.     CIRI KONFLIK
Ciri-ciri konflik dapat ditandai dari :
A.   Ciri peristiwa dalam sehari – hari Pada tahap ini tidak begitu mengancam dan paling mudah untuk dikelola karena memiliki ciri-ciri:
a.    Terjadinya secara terus menerus sehingga merupakan kebiasaan dan hanya memerlukan sedikit perhatian. 
b.    Ditandai oleh perasaan jengkel sehari-hari namun berlalu begitu saja dan munculnya tidak menentu. 
c.    Walaupun ada perasaan tidak cocok, kadang-kadang marah tetapi emosinya cepat mereda. 
B.    Ciri tantangan Pada tahap ini ditandai dengan sikap kalah atau menang berupa:
a.    Kekalahan tampaknya lebih besar karena yang bersangkutan terikat dengan masalah.
b.    Pada tahap ini pengelolaannya tidak dapat dilakukan secara sabar dan hati-hati karena setiap orang berkaitan dengan masalah yang kompleks. 
c.    Kelompok yang bersaing tidak suka mencari fakta yang akurat tentang lawan saingannya sebab tingkat kepercayaannya sudah menurun. 
d.    Muncul sikap putus asa akibatnya hanya saling sindir menyindir karena strategi yang digunakan hanya untuk mempertahankan sikapnya sendiri.
C.    Ciri pertentangan /pertikaian Pada tahap ini keinginan untuk menang sangat kuat sekaligus untuk mencederai serta menghilangkan keberadaan kelompok lain, dengan pemikiran bahwa:
a.    Konflik telah meningkat dalam eskalasi yang sangat tinggi.
b.    Harus ada korban 
c.    Harus ada yang dihukum 
d.    Ada upaya untuk memperpanjang konflik 

e.    Salah satu kelompok harus tidak eksis lagi.

Sunday, December 29, 2013

Stratifikasi Sosial

Stratifikasi sosial merupakan penggolongan kelompok masyarakat dalam berbagai lapisan-lapisan tertentu. Menurut etimologi bahasa, stratifikasi berasal dari bahasa Yunani yakni stratum, yang berarti lapisan. Pitirim A. Sorokin, mendefinisikan stratifikasi sosial sebagai perbedaan penduduk atau masyarakat ke dalam lapisan kelas-kelas secara bertingkat (hierarkis) dengan perwujudannya adalah kelas tinggi dan kelas yang lebih rendah (Soekanto 1990).
Ukuran yang biasa dipakai untuk menggolong-golongkan anggota masyarakat ke dalam suatu lapisan adalah sebagai berikut:
Ukuran kekayaan. Barangsiapa yang memiliki kekayaan paling banyak, termasuk ke dalam lapisan atas. Kekayaan tersebut, misalnya, dapat dilihat pada bentuk rumah yang bersangkutan, kendaraan, cara-cara menggunakan pakaian serta bahan pakaian yang dipakai, kebiasaan untuk berbelanja barang-barang mahal dan seterusnya.
Ukuran kekuasaan. Barangsiapa yang memiliki kekuasaan atau yang mempunyai wewenang terbesar, menempati lapisan atas.
Ukuran kehormatan. Ukuran kehormatan tersebut mungkin terlepas dari ukuran-ukuran kekayaan dan/atau kekuasaan. Orang yang paling disegani dan dihormati, mendapat tempat yang teratas. Ukuran semacam ini, masih banyak dijumpai pada masyarakat-masyarakat tradisional. Biasanya mereka adalah golongan tua atau mereka yang pernah berjasa.
Ukuran ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan sebagai ukuran, dipakai oleh masyarakat yang menghargai ilmu pengetahuan. Akan tetapi ukuran tersebut kadang-kadang menyebabkan terjadinya akibat-akibat negatif. Karena ternyata bahwa bukan mutu ilmu pengetahuan yang dijadikan ukuran, akan tetapi gelar kesarjanaannya. Sudah tentu hal demikian memacu segala macam usaha untuk mendapatkan gelar, walau tidak halal.
Dalam hidup bermasyarakat, secara tidak langsung setiap anggota masyarakat digolongkan ke dalam beberapa lapisan berdasarkan kriteria tertentu, seperti harta, kepemilikan tanah, pendidikan, dan lain-lain. Apakah fungsi dilakukannya penggolongan atau stratifikasi tersebut?

Dalam kenyataannya, stratifikasi sosial mempunyai fungsi sebagai berikut:
Stratifikasi sosial menyusun alat bagi masyarakat dalam mencapai beberapa tugas utama. Hal ini dilaksanakan dengan mendistribusikan prestise maupun privelese (hak yang dimiliki seseorang karena kedudukannya dalam sebuah strata). Setiap strata ditandai dengan pangkat atau simbol-simbol yang nyata yang menunjukkan rangking, peranan khusus, dan standar tingkah laku dalam kehidupan. Semuanya diorganisir untuk melaksanakan tugasnya masing-masing. Penghargaan masyarakat terhadap orang-orang yang menduduki dan melaksanakan tugasnya dapat dipandang sebagai insentif yang dapat menarik mereka untuk melaksanakan tugasnya dengan baik.
Stratifikasi sosial menyusun, mengatur, serta mengawasi saling hubungan di antara anggota masyarakat. Peranan, norma, dan standar tingkah laku dilibatkan dan diperhatikan dalam setiap hubungan di antara strata yang ada di dalam masyarakat. Stratifikasi sosial cenderung mengatur partisipasi individu dalam kehidupan secara menyeluruh dalam suatu masyarakat. Ia memberi kesempatan untuk memenuhi dan mengisi tempat-tempat tertentu, dan pada pihak lain ia juga dapat membatasi ruang gerak masyarakat. Tetapi terlepas dari tinggi rendahnya strata yang dimiliki seseorang, stratifikasi berfungsi untuk mengatur partisipasinya di tempat-tempat tertentu dari kehidupan social bersama.
Stratifikasi sosial memiliki kontribusi sebagai pemersatu dengan mengoordinasikan serta mengharmonisasikan unitunit yang ada dalam struktur sosial itu. Dengan demikian, ia berperan dalam memengaruhi fungsi dari berbagai unit dalam strata sosial yang ada.
Stratifikasi sosial mengategorikan manusia dalam stratum yang berbeda, sehingga dapat menyederhanakan dunia manusia dalam konteks saling berhubungan di antara mereka. Dalam kelompok primer, fungsi ini kurang begitu penting karena para anggota saling mengenal secara dekat.

Namun demikian, ia menjadi sangat penting bagi kelompok sekunder. Hal ini disebabkan para anggota tidak saling mengenal, sehingga sulit untuk menetapkan aturan tingkah laku mana yang akan digunakan dalam berhubungan dengan orang lain. Dengan adanya stratifikasi, kesulitan ini relatif dapat diatasi.

Saturday, November 2, 2013

Pengaruh Pola Asuh Orang Tua Terhadap Kepribadian Anak


Anak usia dini berinteraksi dengan orang lain dengan mencontoh, berbagi dan menjadi teman baik. Mereka juga mempelajari sikap, nilai, prefensi pribadi dan beberapa kebiasaan dengan mengikuti contoh, termasuk cara mengenali dan menangani emosi mereka. Anak  usia dini belajar banyak dari perilaku orang-orang disekitar mereka. Keluarga adalah kelompok sosial pertama dengan siapa anak diidentifikasikan, anak lebih banyak menghabiskan waktunya dengan kelompok keluarga daripada dengan kelompok sosial lainnya. Anggota keluarga merupakan orang yang paling berarti dalam kehidupan anak.

1.  Pengaruh Pola Asuh Orang Tua yang Bekerja dan yang Tidak Bekerja terhadap Pembentukan Kepribadian Anak
Sikap, kebiasaan dan pola perilaku yang dibentuk selama tahun pertama, sangat menentukan seberapa jauh individu-individu berhasil menyesuaikan diri dalam kehidupan ketika mereka bertambah tua. Kenyataan tersebut menunjukkan pentingnya dasar-dasar yang diberikan orang tua pada anaknya pada masa kanak-kanak. Dasar-dasar tersebutlah yang akan dibawa sampai masa tua.
Tidak dapat dipungkiri kesempatan pertama bagi anak untuk mengenal dunia sosialnya adalah dalam keluarga. Di dalam keluarga untuk pertama kalinya anak mengenal aturan tentang apa yang baik dan tidak baik. Oleh karena itu, orang tua harus bisa memberikan pendidikan dasar yang baik kepada anak-anaknya agar nantinya bisa berkembang dengan baik.
Kenyataan yang terjadi pada masa sekarang adalah berkurangnya perhatian orang tua terhadap anaknya karena keduanya sama-sama bekerja. Hal tersebut mengakibatkan terbatasnya interaksi orang tua dengan anaknya. Keadaan ini biasanya terjadi pada keluarga-keluarga muda yang semuanya bekerja.
Anak-anak kurang mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari orang tua karena keduanya sama-sama sibuk dengan pekerjaannya masing masing. Sedangkan anak pada usia ini sangat mambutuhkan perhatian lebih dari orang tua terutama untuk perkembangan kepribadian. Anak yang ditinggal orang tuanya dan hanya tinggal dengan seorang pengasuh yang dibayar orang tua untuk menjaga dan mengasuh, belum tentu anak mendapatkan pengasuhan yang baik sesuai perkembangannya dari seorang pengasuh.
Anak yang ditinggal kedua orang tuanya bekerja cenderung bersifat manja. Biasanya orang tua akan merasa bersalah terhadap anak karena telah meninggalkan anak seharian. Sehingga orang tua akan menuruti semua permintaan anak untuk menebus kesalahanya tersebut tanpa berfikir lebih lanjut permintaan anak baik atau tidak untuk perkembangan kepribadiaan anak selanjutnya. Kurangnya perhatiaan dari orang tua akan mengakibatkan anak mencari perhatian dari luar, baik dilingkungan sekolah dengan teman sebaya ataupun dengan orang tua pada saat mereka di rumah. Anak suka mengganggu temannya ketika bermain, membuat keributan di rumah dan melakukan hal-hal yang terkadang membuat kesal orang lain. Semua perlakuan anak tersebut dilakukan hanya untuk menarik perhatian orang lain karena kurangnya perhatian dari orang tua.
Sedangkan orang tua yang tidak bekerja di luar rumah akan lebih fokus pada pengasuhan anak dan pekerjaan rumah lainnya. Anak sepenuhnya mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari orang tua. Akan tetapi tidak menutup kemungkinan anak menjadi kurang mandiri, karena terbiasa dengan orang tua. Segala yang dilakukan anak selalu dengan pangawasan orang tua. Oleh karena itu, orang tua yang tidak bekerja sebaiknya juga tidak terlalu over protektif. Sehingga anak mampu untuk bersikap mandiri.

2. Pengaruh Pola Asuh Orang Tua yang Berpendidikan Tinggi dan Berpendidikan Rendah Terhadap Pembentukan Kepribadian Anak
Latar belakang pendidikan orang tua mempunyai pengaruh yang besar terhadap pembentukan kepribadian anak. Orang tua yang mempunyai latar belakang pendidikan yang tingi akan lebih memperhatikan segala perubahan dan setiap perkembangan yang terjadi pada anaknya. Orang tua yang berpendidikan tinggi umumnya mengetahui bagaimana tingkat perkembangan anak dan bagaimana pengasuhan orang tua yang baik sesuai dengan perkembangan anak khususnya untuk pembentukan kepribadian yang baik bagi anak. Orang tua yang berpendidikan tinggi umumnya dapat mengajarkan sopan santun kepada orang lain, baik dalam berbicara ataupun dalam hal lain.
Berbeda dengan orang tua yang mempunyai latar belakang pendidikan yang rendah. Dalam pengasuhan anak umumnya orang tua kurang memperhatikan tingkat perkembangan anak. Hal ini dikarenakan orang tua yang masih awam dan tidak mengetahui tingkat perkembangan anak. Bagaimana anaknya berkembang dan dalam tahap apa anak pada saat itu. Orang tua biasanya mengasuh anak dengan gaya dan cara mereka sendiri. Apa yang menurut mereka baik untuk anaknya. Anak dengan pola asuh orang tua yang seperti ini akan membentuk suatu kepribadian yang kurang baik.

3.   Pengaruh Pola Asuh Orang Tua dengan Tingkat Ekonomi Menengah Keatas dan Menengah Kebawah
Permasalahan ekonomi dalam keluarga merupakan masalah yang sering dihadapi. Tanpa disadari bahwa permasalahan ekonomi dalam keluarga akan berdampak pada anak. Orang tua terkadang melampiaskan kekesalan dalam menghadapi permasalahan pada anak. Anak usia prasekolah yang belum mengerti tentang masalah perekonomian dalam keluarga hanya akan menjadi korban dari orang tua.
Dalam pola asuh yang diberikan oleh orang tua yang tingkat perekonomiannya menengah keatas dan orang tua yang tingkat perekonomiannya menengah kebawah berbeda. Orang tua yang tingkat perekonominnya menengah keatas dalam pengasuhannya biasanya orang tua memanjakan anaknya. Apapun yang diinginkan oleh anak akan dipenuhi orang tua. Segala kebutuhan anak dapat terpenuhi dengan kekayaan yang dimiliki orang tua. Pengasuhan anak sebagian besar hanya sebatas dengan materi. Perhatian dan kasih sayang orang tua diwujudkan dalam materi atau pemenuhan kebutuhan anak.
Anak yang terbiasa dengan pola asuh yang demikian, maka akan membentuk suatu kepribadian yang manja, serba menilai sesuatu dengan materi dan tidak menutup kemungkinan anak akan sombong dengan kekayaan yang dimiliki orang tua serta kurang menghormati orang yang lebih rendah darinya.
Sedangkan pada orang tua yang tingkat perekonomiannya menengah kebawah dalam cara pengasuhannya memang kurang dapat memenuhi kebutuhan anak yang bersifat materi. Orang tua hanya dapat memenuhi kebutuhan anak yang benar-benar penting bagi anak. Perhatian dan kasih sayang orang tualah yang dapat diberikan.
Anak yang hidup dalam perekonomian menengah kebawah terbiasa hidup dengan segala kekurangan yang dialami keluarga. Sehingga akan terbentuk kepribadian anak yang mandiri, mampu menyelesaikan permasalahan dan tidak mudah stres dalam menghadapi suatu permasalahan.dan anak dapat menghargai usaha orang lain.
Pada kenyataannya terdapat juga anak yang minder dengan keadaan ekonomi orang tua yang kurang. Oleh karena itu, peran orang tua dalam hal ini sangat penting. Orang tua harus menyeimbangkan dengan pendidikan agama pada anak. Sehingga anak mampu mensyukuri segala yang telah diberikan oleh sang Pencipta.